Manajemen Energi APRIL Group yang Bisa Ditiru

 

Efisiensi energi sangat berkaitan erat dengan kelestarian alam, Pemanfaatan energi ramah lingkungan serta pemakaiannya dengan efisien amat diperlukan jika ingin keseimbangan iklim bisa terjaga. Terkait hal ini, banyak pihak bisa meniru manajemen energi yang dilakukan oleh APRIL Group.

APRIL merupakan salah satu perusahaan pulp dan kertas terbesar di dunia. Mereka memproduksinya secara bertanggung jawab dengan berpegang terhadap prinsip-prinsip keberlanjutan.

APRIL Indonesia mengelola 480.000 hektare hutan tanaman industri untuk memasok bahan baku pulp dan kertas. Dari semua itu, mereka mampu menghasilkan 2,8 juta ton pulp per tahun. Sedangkan, untuk kertas, APRIL Asia sanggup memproduksi hingga 1,16 juta ton dalam kurun waktu yang sama.

Dalam memproduksi pulp dan kertas, APRIL Group tentu membutuhkan energi. Namun, perusahaan yang berada di bawah naungan grup Royal Golden Eagle ini telah memiliki solusi jitu dalam pemenuhan energi. Selain memilih yang ramah lingkungan, APRIL mampu menghasilkan energi terbarukan sendiri.

Kesuksesan itu tak lepas dari manajemen energi efisien yang mereka lakukan. APRIL Group selalu berupaya memanfaatkan energi dengan efektif supaya alam terus lestari.

Keseriusan APRIL dalam memanfaatkan energi yang ramah lingkungan dibuktikan secara nyata dengan meminimalkan pemakaian energi fosil. Bukan rahasia lagi, sumber energi itu memiliki tingkat emisi yang tinggi. Hal inilah yang memicu kehadiran efek rumah kaca yang berdampak buruk terhadap keseimbangan iklim. Oleh karena itu sudah seharusnya penggunaannya dikurangi atau malah dihilangkan sama sekali.

Sudah sejak lama APRIL Group telah melakukan pengurangan pemakaian energi fosil. Lihat saja komposisi energi yang dipakai oleh mereka. Hampir 80 persennya berasal dari energi terbarukan yang ramah lingkungan. Energi fosil yang digunakan hanya tersisa sekitar 20 persen.

Pencapaian tersebut bisa dilakukan karena kejelian APRIL dalam memenuhi kebutuhan energinya. Mereka tidak memperolehnya dari pihak luar, namun justru memproduksinya sendiri. Dengan cerdik, APRIL Asia memanfaatkan limbah hasil produksinya sebagai sumber energi listrik.

Dalam memproduksi pulp dan kertas, terdapat sisa hasil produksi yang disebut lindi atau black liquor. Lindi merupakan limbah cair yang mengandung padatan sebesar 70%-72%. Ini dihasilkan setelah kayu dimasukkan ke dalam digester dan didaur ulang lagi.

Patut diketahui, pulp dan kertas dibuat dari kayu yang diproses sedemikian rupa. Awalnya kayu dibersihkan dengan air agar bersih dan terpisah dari kulitnya. Sesudah bersih, kayu kemudian dimasukkan ke dalam mesin digester. Dari sinilah lindi dihasilkan.

Setelah didaur ulang, lindi akhirnya dimanfaatkan sebagai sumber energi. Kuncinya adalah pengoperasian ketel uap pemulihan (recovery boiler) terbesar di dunia di pabrik milik APRIL. Fasilitas inilah yang menangkap energi dari lindi hitam (black liquor), yang berasal dari proses pembuatan pulp dan mengubahnya menjadi listrik.

Namun, kejelian APRIL dalam mengelola energi di perusahaannya tidak hanya berhenti pada produksi listrik dari lini. Mereka juga mampu memanfaatkan metanol sebagai energi dalam tungku pembakaran.

Penting untuk dipahami bahwa metanol hadir dari proses penyulingan dan penguapan  atau evaporasi yang melibatkan lindi hitam. Lagi-lagi, sumber energi ini semakin mengurangi pemakain energi fosil yang kurang ramah lingkungan.

Selain dari lindi, APRIL juga dengan jeli telah memanfaatkan limbah dari pembersihan kayu. Potongan kulit kayu dan kotoran bisa mereka olah menjadi energi biomass. Sama seperti lindi, sumber energi ini bisa diperbarui. Tak aneh, APRIL terus bertekad memanfaatkannya agar pemakaian energi fosil semakin berkurang.

“Keberlanjutan menjadi prinsip utama dalam setiap lini operasional perusahaan. Karena itu, ke depan, kami tetap fokus pada pembangkit  biomass,” kata Direktur PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP), Kusnan Rahmin.

Ada banyak keuntungan yang bisa dipetik dari sumber energi biomass seperti lindi. Energi ini jauh lebih rbersahabat dengan alam dibanding sumber energi dari fosil. Hal ini sangat penting dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Emisi karbon yang dihasilkan pabrik dari penggunaan lignin yang sudah diproses ini juga jauh lebih kecil dari pada pemanfaatan bahan bakar minyak dan batu bara. Intinya, perusahaan mencoba untuk mengurangi penggunaan energi fosil sebagai bahan bakar pembangkit energi yang dinilai banyak kalangan menyebabkan pencemaran udara dan emisi karbon,” kata Manajer Lingkungan PT RAPP, Edward Wahab, seperti dikutip dari Republika.

 

DISALURKAN KE MASYARAKAT

 

Berkat pemrosesan lindi menjadi sumber energi, APRIL mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri. Per tahun mereka sanggup menghasilkan listrik setara dengan 390 megawatt per tahun.

Jumlah itu sudah mencukup untuk kebutuhan operasional perusahaan. Bahkan, APRIL masih memiliki sisa energi yang mereka salurkan kepada masyarakat.

Mulanya, APRIL Indonesia mampu menyisakan sekitar dua persen dari energi yang dihasilkannya untuk kebutuhan masyarakat sekitar. Jumlah itu setara dengan 10 megawatt. Namun, pada 2016, APRIL sudah mengambil langkag untuk menambah suplai listriknya.

“Energi listrik yang dihasilkan tersebut tak hanya dimanfaatkan untuk kepentingan operasional pabrik, tapi juga disalurkan ke masyarakat melalui Perusahaan Listrik Negara sebesar 15 megawatt,” kata Kusnan seperti dilaporkan oleh Agro Indonesia.

APRIL melakukannya karena tahu persis kebutuhan listrik di daerah sekitar perusahaannya di sekitar Provinsi Riau dan Kepulauan Riau belum dapat dipenuhi secara maksimal oleh PLN. Masyarakat pasti butuh energi listrik sehingga mereka tak ragu untuk membaginya kepada khalayak.

APRIL Indonesia mau melaksanakannya demi pemenuhan filosofi bisnis perusahaan. Sebagai anak perusahaan Royal Golden Eagle, mereka harus melakukan prinsip kerja perusahaan yang sudah digariskan pendirinya, Sukanto Tanoto, yakni prinsip 5C.

Dalam filosofi bisnis 5C terdapat arahan untuk memerhatikan masyarakat, negara, hingga aktif dalam menjaga keseimbangan iklim. Semua anak perusahaan Royal Golden Eagle termasuk APRIL diwajibkan tak hanya berguna bagi pelanggannya maupun internal perusahaan, namun juga pihak lain.

Manajemen energi yang dijalankan oleh APRIL merupakan wujud nyatanya. Dengan memanfaatkan lindi menjadi energi, APRIL Asia sudah terbukti mampu menjaga keseimbangan iklim. Pasalnya, energi yang dihasilkan merupakan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Emisi yang dikeluarkan jauh lebih kecil dibandingkan energi fosil. Bahkan, tidak ada limbah dari proses pembuatannya.

Sementara itu, komitmen untuk membagi sisa energi listrik kepada khalayak memperihatkan poin lain dalam 5C sudah dilakukan dengan baik oleh APRIL. Mereka terbukti memberi manfaat kepada masyarakat yang ikut menikmati energi listrik.

Secara umum, APRIL juga membantu negara. Ingat, Indonesia saat ini tengah berupaya mengejar target pembangunan sumber energi listrik sebesar 35 ribu megawatt. APRIL Indonesia memudahkan pencapaian target tersebut dengan mendirikan fasilitas pengolahan listrik sendiri.

“Bapak Sukanto Tanoto menyatakan, usaha yang baik adalah usaha yang bermanfaat bagi masyarakat, negara, iklim dan perusahaan. Hanya dengan cara tersebut, (bisnis, Red.) berkelanjutan dapat terwujud,” ujar Kusnan.

Tak mengherankan APRIL patut menjadi contoh bagi berbagai perusahaan lain di Indonesia. Dalam manajemen energi, mereka telah terbukti berhasil mengelolanya secara efisien dan ramah lingkungan.

Advertisements

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*