Kurikulum 2013 dihentikan, yang senang guru atau muridnya? Berikut komentar Netizen

image

Alfido.com – Hai gan.. Mendikbud Anies Baswedan resmi mengeluarkan pernyataan Kurikulum 2013 resmi dihentikan bagi seluruh sekolah di Indonesia. Kecuali untuk sekolah percontohan yang telah melaksanakannya lebih dari 1 semester, wajib menyelesaikan 3 semester lagi.


Nah, beberapa waktu yang lalu Kurikulum 2013 menjadi momok membingungkan sendiri bagi siswa dan guru. Pergantian kurikulum dari 2006 ke 2013 yang belum matang, serta banyaknya buku yang belum selesai dicetak membuat banyak sekolah kebingungan dan protes.

Tapi, setelah Kurikulum 2013 atau K13 dihapus, siapa yang senang? Ini dia beberapa komentar Netizen dari fanspage Suara Surabaya:

image

image

image

image

image

image

image

Nah, gimana menurut sampeyan gan? Tentunya kasihan para siswa-siswi di Indonesia mesti dibolak-balik kurikulumnya. Riset trilliunan dalam meninjau kurikulum yang belum matang terbuang percuma. Kali ini semua sekolah bisa kembali ke kurikulum 2006 yang biasa digunakan lebih dulu.

6 Komentar

  1. Menghembuskan nafas lega ketika tau bahwa Kurikulum 2013 dikembalikan lagi ke KTSP. Kurikulum 2013 begitu merepotkan terutama dalam sistem penilaian, anda bisa bayangkan saja sendiri, 40 anak tiap kelasnya harus saya amati satu persatu untuk mendapatkan penilaian sikapnya. Ada dua belas kelas yang harus saya nilai, dalam satu semester ini saya disibukkan dengan berbagai administrasi penilaian yang harus saya laporkan.

    • Iya mas.. masih belum mateng Kurikulum 2013,.. tapi pemerintah terlalu terburu-buru merilisnya padahal banyak sekolah, guru, dan siswa yang belum siap.. sayang bgt duit trilliunan udah terbuang percuma.. PR besar pemerintah skrg 😀

      • Yang merancang Kur 13 tuh para prof, yang tidak mengalami bagaimana rasanya di lapangan. Merancang itu enak, menjalankan dengan baik itu yang susah. Coba para perancang Kur 13 di suruh mencoba sendiri rancangan mereka di lapangan, enggak perlu lama-lama, cukup sebulan saja deh, saya yakin para prof bakal klenger.

        Bagi saya pribadi mutu pendidikan di Indonesia bisa berkualitas bukan karena Kurikulumnya, tapi karena kualitas tenaga pendidiknya. Nah itu dimulai dari sang pencetak (FKIP or STKIP), bukan asal nerima saja, perlu penyaringan yang ketat, yang bisa lulus saringan haruslah orang-orang yang kategori level 1. Jangan seperti saat ini, level 10 saja di terima. Sebaiknya penerimaan mahasiswa FKIP ataupun STKIP mencontoh Fakultas Kedokteran.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*