Yogyakarta “Kota Seribu Mall”, Jogja Semakin Men-Jakarta..

image

Alfido.com | News – Hai gan.. Miris sekaligus prihatin terhadap pembangunan Kota Jogja yang terus ditanami Mall oleh para pengembang elite. Padahal secara lantang warga Jogja menolak pertambahan jumlah Mall di Kota Pelajar yang sederhana itu. Akhirnya julukan “Kota Seribu Mall” sebentar lagi bakal melekat erat ke Jogja.

image

Hingga Desember 2014 terdapat enam pusat belanja sewa yang beroperasi yakni Jogjatronic Mall, Ramai Family Mall, Ambarrukmo Plaza, Galleria Mall, Malioboro Mall, dan Jogjakarta City Mall.

Jumlah tersebut bakal bertambah dengan kehadiran 6 pusat belanja baru yang beroperasi tahun ini hingga 2018 mendatang. Keenam pusat belanja tersebut adalah Hartono Mall Yogyakarta, Sahid Yogya Lifestyle City, Jogja One Mall, Malioboro City Mall, Lippomall Yogyakarta, dan Jogja Town Square.

Bahkan saking mirisnya, menurut General Manager Hartono Mall Yogyakarta, Samuel Khristianto, kehadiran mal-mal tersebut masih kurang. Yogyakarta, menurut dia, masih butuh banyak pusat belanja seiring meningkatnya Indeks Tendensi Konsumen (ITK). Per Kuartal III 2014, ITK Yogyakarta mencapai 115,89.

“Selain itu, Yogyakarta punya tiga keunggulan istimewa lainnya yang tidak dimiliki kota tetangganya. Ketiga keunggulan inilah yang membuat Yogyakarta menarik minat banyak peritel dan pengembang untuk melakukan ekspansi bisnis,” tutur Samuel dikutip dari Kompas.com, Minggu (1/2/2015).

Lebih jauh Samuel menjelaskan, keunggulan pertama adalah Yogyakarta sebagai destinasi wisata dunia, terpopuler kedua di Indonesia setelah Bali. Indikasinya, jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat dari tahun ke tahun. Mengutip data Biro Pusat Statistik (BPS), per kuartal III 2014 sebanyak 327.856 turis lokal dan mancanegara yang berkunjung ke Yogyakarta.

“Keunggulan kedua, banyak mahasiswa baru dari luar kota yang belajar dan kuliah di Yogyakarta. Jumlah mahasiswa baru ini bisa mencapai 200.000-300.000 orang per tahun, dan ini merupakan pasar yang sangat besar buat para peritel. Belum lagi jumlah mahasiswa eksisting,” ucap Samuel

sekali lagi.

Keunggulan ketiga, lanjut dia, Yogyakarta telah bertransformasi menjadi kota urban. Yogyakarta terbuka bagi segala perubahan. Termasuk gaya hidup (lifestyle) yang merupakan pengaruh dari proses migrasi urban dengan beragam latar belakang. Kebutuhan pun semakin bervariasi dan tingkat yang terus melonjak tinggi.

Samuel menyebut kebutuhan kalangan urban Yogyakarta sekarang, tentu berbeda dengan zaman dulu. Kebutuhan sekarang adalah kebutuhan untuk diakui (eksis), kebutuhan untuk melihat (to see), dan kebutuhan untuk dilihat (to bee seen). Kebutuhan tersebut salah satu di antaranya bisa dipenuhi oleh pusat belanja yang mengakomodasi kebutuhan makan, minum, hobi, sosialisasi, musik, dan hiburan.

“Jadi, tak berlebihan jika Yogyakarta menjadi kota seribu pusat belanja. Ada banyak peluang dan kesempatan, jika mampu merealisasikan pengembangan pusat belanja yang berbeda dengan konsep istimewa dan tentu saja segmen sasaran yang tepat,” tandas Samuel

yang sepertinya bukan orang asli Jogja itu.

Jujur aja eksploitasi yang berlebihan ke Jogja, membuat Kota yang terkenal dengan slogan “Jogja Istimewa” itu tak lagi istimewa sebagai Kota yang sederhana.

🙁 Duh.. #JogjaOraDidol !!!

source: Kompas

[twitter-follow screen_name=’Alfinews’ show_count=’yes’]

[twitter-follow screen_name=’k24info’ show_count=’yes’]

Baca juga artikel lainnya:
[archives limit=10]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*